Unofficial Hizbut Tahrir Indonesia

Info, kegiatan dan berita-berita pilihan seputar Hizbut Tahrir Indonesia
hizbut tahrir indonesia

Artis Jadi Duta Kawin Sejenis



homo“Pernyataan itu adalah cara mereka ingin memperlihatkan pada publik kalau ‘aku adalah seorang liberal dan persetan dengan agama’.”

Pernyataan mantan Rocker Hari Moekti bahwa artis sebenarnya adalah ujung tombak untuk menyebarkan paham setan kembali dikukuhkan oleh pernyataan artis Sherina Munaf dan penyanyi Anggun C Sasmi. Melalui akun twitter masing-masing keduanya langsung mendukung perkawinan sejenis (homoseksual/lesbian) yang baru saja dilegalkan di seluruh negara bagian Amerika Serikat.

“YES!!!!! Mariage is between love and love ??,” tulis Anggun di akun Twitter-nya yang menyatakan iya, perkawinan adalah antara cinta dan cinta, Jum’at (26/5).

Tentu saja penembang lagu Mimpi dan Tua Tua Keladi tersebut menuai kecaman dari berbagai pihak karena mendukung lesbian, homo, biseks, dan transgender (LGBT).

Seorang netizen (warga internet) berkomentar: “ini ane heran yah, yang melegalkan kawin sesama jenis itu amerika, kenapa si anggun promosinya ke indonesia, apa dia udah jadi “duta” kawin sesama jenis ya di sana, terus dia ngajakin siapa saja fansnya yang mau kawin sejenis bisa langsung bikin visa n ngajuin ijin di sana. Lah iya kalo tuh orang punya duit buat berangkat ke amrik buat ngelegalin surat kawin doang, apa si anggun ini mau sponsorin duitnya juga? aya2 wae…”

Netizen lainnya menimpali, “sepertinya anggun sudah terjangkiti virus liberalisme.. satu saran untuk anggun, banyak2 baca dan bertanya kepada ahli agama yang konon dianutnya sebelum otaknya melenceng jauh..”

Terang saja, di negeri mayoritas Muslim ini, LGBT sangat ditentang. Di tengah kecaman berbagai pihak atas perbuatan yang mengundang azab Allah tersebut, bintang film dan penyanyi Sherina Munaf malah mengharapkan kelakuan bejat dan menjijikkan seperti yang dilakukan kaum Sodom dan Gomorah bisa diakui di seluruh dunia.

“Banzai! Pernikahan sesama jenis kini ada hukumnya di Amerika Serikat. Mimpi: berikutnya, di dunia! Dimanapun Anda berada, bangga siapa Anda. #LGBTRights,” kicau Sherina dalam akun resmi twitternya dalam bahasa Inggris, Ahad (28/6).

Menurut penulis Buku Detik-Detik Penghancuran Keluarga Iwan Januar kicauan kedua artis kontroversial tersebut bisa menjadi tolak ukur seberapa jauh keduanya telah menjadi orang-orang liberal.

“Pernyataan itu adalah cara mereka ingin memperlihatkan pada publik kalau ‘aku adalah seorang liberal dan persetan dengan agama’. Jadi jangan terkecoh dengan bayangan masa lalu Sherina itu artis cilik yang polos dan chubby,” kata Iwan mengingatkan.

Terlepas di kolom agama pada KTP keduanya masih mencantumkan kata “Islam” atau tidak, menurut Iwan, bagi kaum liberalis agama itu kan hanya urusan personal mereka dengan Tuhan, itupun tak ada kewajiban bagi mereka harus tunduk pada aturan agama. Karena mereka merasa berhak menafsirkan sendiri maunya Tuhan seperti apa. “Kalau dalam istilah Alquran mereka itu ‘menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya’, “ ujar Iwan kepada Media Umat, Selasa (30/6).

Melalui pernyataannya yang melampaui batas tersebut, Iwan menilai mereka justru ingin memengaruhi para fans agar mengikuti pendapat mereka. Dengan jumlah follower jutaan mereka lontarkan pernyataan sesat itu dalam keadaan sesadar-sadarnya, bukan sedang mengigau. Di sisi lain mereka juga berpikir ‘ah paling reaksinya cuma sebentar’. Artinya kagak ngaruh untuk popularitas mereka. “Malah membuat mereka semakin diburu media sekuler. Sebentar lagi juga bakal ada media sekuler yang wawancara mereka,” prediksi Iwan.

Hal senada juga disampaikan Felix Yanwar Siauw. Ustadz muda yang kerap menjadi rujukan para netizen tersebut pun kebanjiran pertanyaan soal LGBT.

“Banyak yang bertanya tentang ‘apa pandangan terhadap legalisasi LGBT di US’. Lha, dalam Islam itu sudah jelas, itu jelas-jelas dosa besar,” ungkapnya di akun twitter resminya, Selasa (30/6).(mediaumat.com, 1/7/2015)

 



[Read More...]


Para Mantan Menteri Serukan Pencopotan dan Pengadilan Terhadap Al-Sisi



president-sisi-7Sejumlah mantan menteri dan anggota parlemen di Mesir telah menyerukan agar Presiden Abdel Fattah Al-Sisi dicopot dari jabatannya dan diadili “atas kejahatan yang telah dia lakukan”. Seruan yang dikeluarkan setelah pembunuhan jaksa utama di negara itu dan serangan yang telah menewaskan sedikitnya 50 tentara di Sinai, dalam pernyataannya kelompok itu mengutuk “semua tindakan terorisme, siapa pun pelakunya.”

“Bersama-sama, kita meratapi kehilangan putra dan putri patriotik – baik tentara, warga sipil, wanita maupun anak-anak – yang tewas setiap hari,” kata pernyataan itu. “Pencopotan dan pengadilan terhadap Abdel Fattah Al-Sisi atas kejahatan yang telah dia lakukan bukan lagi tuntutan dari lawan kudeta saja.”  Kelompok itu menambahkan, hal itu sudah menjadi senakin kuat, dan menjadi tuntutan rakyat setelah Al-Sisi “mendorong negara ke tepi jurang sehingga menyebabkan rakyat dan tentara mengalami penghinaan.”

“Karena arogansi komandan kudeta,” klaim seruan itu, telah menempatkan keamanan nasional Mesir dalam bahaya besar. “Dia telah salah dalam mengurus negara, menindas dan meneror rakyat, membanting dan menutup pintu dialog dan rekonsiliasi, dan berjudi dengan masa depan Mesir dan rakyat Mesir.”

Pernyataan tersebut ditandatangani oleh Dr Ayman Nour, pemimpin Partai Ghad El-Thawra; Dr Tharwat NAFIE, seorang  anggota parlemen dan profesor universitas; Hatem Azzam,  anggota parlemen dan Wakil Presiden Partai Al-Wassat; Dr Tarek AlZumar, Presiden Partai Membangun dan Pembangunan; Dr Amr Darrag, mantan Menteri Perencanaan dan Kerjasama Internasional; Dr Mohamed Mahsoub, mantan Menteri Urusan Parlemen dan profesor universitas; Dr Maha Azzam, kepala Dewan Revolusi Mesir; dan Yehia Hamed, mantan Menteri Investasi.

“Kami menyerukan kepada rakyat Mesir,” kata mereka, “semua partai, organisasi dan lembaga masyarakat sipil, untuk bergabung menyatukan tangan dalam menghadapi rezim militer yang berpikir secara serampangan dan junta milter yang bertindak gila ini, untuk menyelamatkan Mesir dan mencapai tuntutan sah rakyat bagi kebebasan, hidup layak dan keadilan sosial. “



[Read More...]


Sekolah Kenya Memaksa gadis-gadis Muslim Untuk Menghadiri Misa di Gereja



To match feature AFRICA-PENTECOSTALS/Para pemimpin Muslim di Mombasa County telah menyatakan kemarahan mereka dan akan mengangkat isu ini dengan menteri pendidikan setelah para siswi Muslim di sekolah menengah dipaksa untuk menghadiri misa di gereja Kristen atau akan diusir.

Siswi Muslim di SMA Bura yang khusus untuk putri mengatakan mereka dipaksa untuk menghadiri misa gereja Kristen, sebuah pelanggaran atas hak konstitusional mereka untuk bebas beribadah.

Abdulswamad Nassir, seorang anggota parlemen untuk konstituen di mana sekolah itu berada, mengatakan dia telah menerima beberapa laporan dari para orang tua siswi yang bersangkutan, yang protes bahwa mereka telah kehilangan hak untuk bebas beragama.

Aden Bare Duale, pemimpin mayoritas di majelis nasional Kenya, untuk wilayah itu, telah berjanji untuk mengangkat masalah ini dengan Menteri Pendidikan, Jacob Kaimenyi.

“Di Sekolah Sheikh Khalifa, tidak ada siswa Kristen yang dipaksa untuk memasuki masjid,” Duale menambahkan, mengacu pada sebuah sekolah Muslim di pantai Kenya yang diikuti oleh siswa Muslim dan Kristen.

Menurut laporan, 40 siswi Muslim  diskors dari sekolah itu minggu lalu karena mereka tidak mau menghadiri misa gereja hari Minggu.

Larangan Berjilbab

Perselisihan agama di sekolah bukan hal baru untuk Kenya yang didominasi Kristen, di mana umat Islam disebutkan merupakan sekitar 11 persen dari jumlah penduduk.

Pada bulan Maret, Dewan Imam dan Da’i mengutuk keputusan pengadilan tinggi Kenya yang melarang jilbab di sebuah sekolah di timur laut negara itu.

Pengadilan memutuskan saat itu bahwa mengenakan jilbab adalah “diskriminatif” dan melanggar peraturan sekolah.

Dewan Imam dan Da’i menanggapi putusan itu dengan menuduh pengadilan sengaja mengabaikan Pasal 32 Konstitusi, yang menyatakan bahwa warga Kenya “tidak boleh dipaksa untuk bertindak, atau terlibat dalam kegiatan apapun, yang bertentangan dengan keyakinan atau agama seseorang. ” (worldbulletin.net, 30/6/2015)



[Read More...]


Hanya Qutaibah Kedua yang Akan Menghentikan Penindasan China terhadap Muslim Uighur



muslim-uighur-kembali-dari-shalat-berjamaah-di-masjid-id-_110521141910-636Berulangnya penindasan China terhadap Muslim Uyghur di bulan suci Ramadhan menuai reaksi keras dari Umat Muslim di berbagai belahan dunia, termasuk Mesir, Indonesia dan Amerika. Insiden terbaru telah menewaskan 28 Muslim Uyghur karena mereka melawan pembatasan ibadah puasa oleh China yang sejak tahun lalu secara resmi diberlakukan kepada anggota partai, pegawai negeri, siswa, dan guru. “Tindakan ini jelas-jelas telah menyakiti hati umat Islam dunia” ujar, Anwar Abbas, seorang intelektual Muslim dan salah satu ketua dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sementara komunitas muslim Amerika yang diwakili CAIR mengirim surat kepada Presiden Xi Jin Ping, mendesak untuk mengakhiri semua penolakan dan sanksi negara dari kebebasan beragama yang menargetkan Muslim, termasuk puasa di bulan Ramadhan. Bahkan Universitas Al Azhar beserta Imam Besarnya, Ahmed al-Tayeb, mengutuk keras otoritas Cina yang telah melarang kaum Muslim, terutama dari kawasan Xinjiang, berpuasa dan menjalankan ibadah selama bulan Ramadhan.

Sungguh, penindasan Muslim Uighur ini tidak bisa dilepaskan dari sistem tata dunia yang terus memelihara rezim predator China dan rezim-rezim boneka Muslim Asia Tengah yang terus menarget muslim Uighur. Tata dunia kapitalistik hari ini telah menempatkan kepentingan ekonomi dan politik lebih tinggi dari kemanusiaan dan hak-hak dasar manusia, termasuk hak beribadah kepada Allah Swt.

Kepentingan Geopolitik China di Asia Tengah : Memangsa Muslim Uighur

Bagi rezim China, ratusan nyawa Muslim Uyghur seperti tidak ada harganya, dibandingkan nilai kepentingan geopolitiknya di Turkestan Timur. Mega proyek China New Silk Road yang baru saja diluncurkan adalah salah satu indikasi kuatnya motivasi China memenangkan persaingan geopolitik baru di kawasan Asia Tengah. Beberapa pakar memperkirakan bahwa China mungkin akan menggusur peran AS dan Rusia di Asia Tengah – sebuah kawasan geostrategis penting bagi semua pihak. Apalagi penarikan pasukan militer AS dari Afghanistan akan meninggalkan kekosongan kekuasaan, dan resistensi negeri-negeri Asia Tengah terhadap Rusia membuat Cina semakin popular di mata rezim-rezim “stan” di Asia Tengah sebagai mitra dagang, keamanan dan pembangunan bersama. [i]

Meskipun proyek ini merupakan kepentingan ekonomi China dalam energi, bahan baku, dan pasar yang akan terus mendorong pertumbuhan ekonomi, namun tidak dapat dipahami hanya dari segi ekonomi saja. Karena kesepakatan puluhan miliar dollar (40 milliar US$) antara China dan negara-negara Asia Tengah yang telah dibuat adalah tentang penyaluran minyak dan gas dari negara-negara tetangga Asia Tengah langsung ke China melalui wilayah Xinjiang yang bergolak dimana 10 juta jiwa Muslim Uighur tinggal. Lebih jahat lagi, di tengah transaksi bisnis itu, semua negara anggota dan negara pengamat dari Shanghai Cooperation Organization (SCO) – serikat politik dan ekonomi yang dipimpin Cina – hampir semua menjanjikan dukungan mereka untuk memerangi apa yang disebut Beijing sebagai “terorisme Uighur”. [ii]

Atas nama kepentingan ekonomi dan geopolitik, rezim pemangsa China telah dengan sengaja menargetkan Muslim Uyghur, dengan dalih memerangi terorisme. China telah menempatkan kepentingan ekonomi dan politik lebih tinggi dari kemanusiaan dan hak-hak dasar manusia.  Betapa murahnya harga nyawa Muslim di mata negara komunis-kapitalis seperti China!

Hanya Qutaibah Kedua yang akan mampu menghentikan China!

Selain kepentingan ekonomi dan geopolitik, sikap psikopat China terhadap Muslim sebenarnya juga dilandasi oleh pengalaman sejarah ketidakberdayaan mereka menghadapi kekuatan Aqidah Islam. China menyadari betul dahsyatnya kekuatan ideology Islam yang sudah mereka rasakan sejak abad ke 6 M dan begitu cepat mempengaruhi masyarakatnya yang berbondong-bondong masuk Islam. Khilafah Islam di zaman al-Walid bin ‘Abdul Malik menaklukkan wilayah Asia Tengah di bawah panglimanya Qutaibah bin Muslim yang dimulai sejak tahun 86 H/705 M.

China semakin gemetar setelah mereka menyaksikan kekuatan kaum Muslim saat itu, yang berhasil menaklukkan wilayah-wilayah Asia, dan tidak bisa dibendung oleh para penguasa di sana. Bagaimana pengkhianatan penguasa Bukhara, yang sebelumnya melakukan perjanjian damai, setelah sebelumnya dikepung oleh pasukan Qutaibah, namun mereka berkhianat. Setelah itu, mereka digempur habis-habisan oleh pasukan kaum Muslim di bawah panglima Qutaibah, hingga tunduk dengan paksa (‘anwah) tahun 87 H/706 M. Pengalaman ini mempunyai dampak politik yang luar biasa yang terukir dalam memori sejarah China, apalagi ketika Qutaibah berhasil menaklukkan kota Kashgar, Samarkand hingga berhasil menguasai jalur sutera perdagangan di Asia Tengah yang sangat penting bagi Cina dan dunia.

Sejarah pun akan kembali berulang, rezim predator Cina akan kembali menghadapi sosok Qutaibah kedua di bawah komando Khilafah Islam untuk yang kedua kalinya. Panglima seperti Qutaibah di bawah panji Islam akan membebaskan Muslim Uighur dan mengembalikan kekuatan geopolitik Islam di Asia Tengah, dimana darah, harta dan kehormatan setiap jiwa Muslim akan terlindungi, karena Khilafah adalah negara yang menempatkan nyawa seorang Muslim lebih berharga daripada seisi bumi, seperti sabda Rasulullah Saw :

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ.

Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.” (HR. Nasa’I dan Tirmidzi).

Khilafah akan menggunakan seluruh perangkat dan sarana, mengerahkan segenap daya upaya, baik politik, ekonomi, dan militer untuk melindungi umat Islam dari penindasan, dan membela darah dan kehormatan karena Islam telah mewajibkannya. Khilafah akan mengerahkan kekuatan militernya secara penuh untuk membela Muslim tanpa memandang lagi dimana mereka berada dan berapapun biayanya. Hal ini karena Khilafah adalah negara yang berprinsip, berdasarkan nilai moral Islam yang luhur yang menempatkan kehormatan jiwa manusia di tempat yang tinggi, yang mewajibkan untuk melindungi darah kaum Muslim, dibandingkan sekedar melakukan tindakan hanya berdasar kepentingan nasional yang egois ataupun karena keuntungan ekonomi, sebagaimana Rasulullaah (Saw) bersabda :

إِنَّمَا الْإِمَامُ ‏‏جُنَّةٌ ‏ ‏يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

‏“Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya” (HR. Muslim)

 

Ditulis untuk Kantor Media Pusat Hizb ut Tahrir oleh

Fika Komara

Anggota Kantor Media Pusat Hizb ut Tahrir

 

[i] The Diplomat  – China’s New Silk Road and Its Impact on Xinjiang http://ift.tt/1Mat0wa[ii] Al Jazeera –  Bolstered Silk Road trade could hurt China’s Uighurs http://ift.tt/10Wl52J

[Read More...]


Pengkhianatan Mesir dan Otoritas Palestina dalam Serangan Israel di Gaza



 Naftali Bennett

Naftali Bennett

Sebagaimana dilansir Middle East Monitor (29/6/2015), Mesir dan Otoritas Palestina (PA) mendorong berlanjutnya serangan Israel di Gaza. Demikian sebagaimana diberitakan oleh koran Yordania Al-Sabeel kemarin mengutip Menteri Pendidikan Israel dan Ketua Partai Naftali Bennett.

Menggambarkan sambutannya itu, Al-Sabeel melaporkan betapa mengejutkan Bennett ketika berbicara kepada TV Israel Channel 2.

Dia mengatakan, Israel harus mengubah cara saat berurusan dengan situasi di Gaza. Dia menyerukan sebuah inisiatif internasional untuk membangun kembali Jalur Gaza dengan imbalan penghentian pengembangan senjata untuk kelompok perlawanan Palestina.

Menteri ekstremis itu mengatakan bahwa Otoritas Palestina dan Mesir tidak tertarik dengan Jalur Gaza. Keduanya menginginkan wilayah itu diserang sepanjang waktu. Mereka juga tidak tertarik jika tentara Israel ada yang mati di sana.

Bennett menambahkan bahwa pilihan untuk tindakan keras terhadap Hamas di Gaza saat ini tidak tersedia. Dia keberatan dengan hal ini dan bersikeras bahwa hal itu harus tetap dalam agenda.

Dia menambahkan bahwa solusi yang baik untuk Jalur Gaza harus diusulkan. Hal ini bisa melalui rekonstruksi fasilitas sipil di Gaza.

Menteri itu mengatakan tidak keberatan dengan gagasan untuk membangun sebuah pelabuhan di Gaza di bawah pengawasan internasional. Dia pun mengatakan usulan tersebut akan dibahas di Dewan Menteri.

Memperhatikan tindakan pejabat institusi Yahudi itu, juga memperhatikan perilaku buruk Mesir dan Otoritas Palestina di atas, nyata sekali sejumlah perkara di antaranya: Pertama, institusi Yahudi di Palestina itu tetap menunjukkan wajahnya yang asli, yakni jahat sekaligus licik. Jahat karena telah puluhan bahkan ratusan kali institusi Yahudi itu menyerang dengan membantai umat Islam dan menghancurkan berbagai fasilitas mereka di Jalur Gaza khususnya dan di wilayah Palestina umumnya. Licik karena mereka menjadikan pembangunan kembali Jalur Gaza—yang notabene merekalah pelaku penghancurannya itu—sebagai bahan negosiasi dengan tujuan untuk melemahkan bahkan menghapuskan perlawanan rakyat Palestina terjadap institusi Yahudi itu.

Kedua, makin jelas dukungan Mesir dan Otoritas Palestina terhadap institusi Yahudi itu. Ini sekaligus menunjukkan makin jelasnya pengkhianatan mereka terhadap Allah SWT, Rasul-Nya dan umat Islam yang selama ini mungkin samar bagi sebagian orang.

Ketiga, makin jelas pula bahwa persoalan Palestina bukan semata-mata pendudukan dan penjajahan institusi Yahudi atas Palestina, tetapi juga karena pengkhianatan para penguasa dan pemimpin Arab, bukan hanya Otoritas Palestina dan Mesir, tetapi juga Yordania, Libanon dan yang lainnya yang nyata-nyata terus membiarkan pendudukan dan penjajahan institusi Yahudi itu atas Bumi Palestina. Padahal banyak umat Islam tertindas, di Palestina, yakni di al-Quds, terdapat pula Masjidil Aqsha yang amat dimuliakan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya, yang saat ini tetap berada dalam cengkeraman institudi Yahudi.

Keempat, pengkhianatan para penguasa Arab itu—yang tampak abai terhadap masalah Palestina—itulah di antaranya yang menjadikan institusi Yahudi makin berani secara terus-menerus mengangkangi Palestina.

Kelima, hanya Khilafahlah yang bakal sanggup mengusir bahkan memusnahkan institusi Yahudi di Bumi Palestina, sebagaimana dulu Rasullullah saw.—yang notabene saat itu telah menjadi kepala Negara Islam—mengusir mereka semuanya dari Madinah sebagai konsekuensi atas pengkhianatan mereka. Khilafahlah—dengan syariahnya—yang bakal sanggup menyelesaikan persoalan Palestina secara tuntas, juga berbagai persoalan yang menimpa umat Islam saat ini. [arif]

 



[Read More...]


Pengantar [Islam Nusantara Ide Berbahaya]



Assalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

Pembaca yang budiman, gagasan ‘Islam Nusantara’ yang akhir-akhir ini digaungkan oleh sebagian tokoh dan pejabat di negeri ini sejatinya bukanlah hal baru. ‘Islam Nusantara’ hanyalah ‘bungkus baru’ menggantikan bungkus lama yang telah lama dipropagagandakan. Sebutlah istilah ‘Islam, Keindonesiaan dan Kemodernan’ yang pernah dipopulerkan oleh Cak Nur. Istilah itu merujuk pada judul buku Cak Nur yang cukup terkenal dan dijadikan rujukan oleh kaum liberal. Istilah lain adalah ‘pribumisasi Islam’ yang pernah dipopulerkan oleh Gus Dur. Berturut-turut kemudian muncul istilah ‘Islam inklusif’, ‘Islam moderat’, ‘Islam substantif’, dsb. Ragam istilah tersebut, sekali lagi, hanyalah ‘bungkus’, sementara isinya sama, yakni: sekularisme atau sekularisasi Islam.

Gagasan ‘Islam Nusantara’ jelas secara sengaja menafikan faktor ‘Arab’ yang sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari Islam. Pasalnya, meski Islam tidak identik dengan Arab, al-Quran sebagai sumber utama syariah Islam adalah berbahasa Arab. Bahasa Arab adalah bahasa al-Quran. Al-Quran mustahil bisa dipahami kecuali dengan bahasa Arab. Bahkan hukum-hukum al-Quran tak mungkin bisa digali oleh para mujtahid kecuali melalui—salah satunya yang utama—penggalian terhadap aspek kebahasaaraban al-Quran. Karena itu gagasan ‘Islam Nusantara’ yang sengaja menafikan faktor ‘Arab’—dengan dalih apapun—tentu berbahaya karena dapat mereduksi Islam itu sendiri. Contoh kecil, sudah lama ada orang berpendapat bahwa jilbab adalah budaya Arab sehingga wanita Muslimah Indonesia tak harus berjilbab. Padahal jilbab adalah perintah langsung dari Allah SWT kepada kaum Muslimah, baik Arab maupun non-Arab.

Gagasan ‘Islam Nusantara’ yang sejatinya adalah sekularisasi Islam tentu berimplikasi besar bagi Islam itu sendiri. Gagasan ini juga berpotensi memecah-belah Dunia Islam. Karena itu gagasan ini wajib dikritisi dan dicurigai sebagai upaya untuk melemahkan Islam dan kaum Muslim.

Itulah tema besar yang dalam al-wa’ie edisi kali ini. Tema-tema lain yang pastinya penting tentu juga layak untuk dikaji. Selamat membaca!

Wassalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

 

 

 



[Read More...]


AS Mencoba Menguniversalkan Kebijakan Gagal Pernikahan Sesama Jenis



pasangan gay di californiaRencana Amerika Serikat untuk memberlakukan kebijakan pernikahan sesama jenis ke seluruh dunia tidak mungkin sukses, kata Alexei Pushkov, kepala Komite Duma Negara Urusan Internasional.

“Suatu strata besar umat manusia akan menolak untuk menerima nilai-nilai baru, tapi hal ini tidak akan menghentikan AS  yang telah mengatakan bahwa salah satu tujuan utama kebijakan  globalisasi adalah untuk universalisasi pernikahan sesama jenis,” katanya.

Pushkov lebih lanjut meramalkan bahwa AS bahkan tidak akan menggunakan kerangka hukum untuk melakukannya dan sebaliknya akan menggunakan “tekanan”.

“Dalam hal ini saya kira, tentu saja, tidak melalui mekanisme PBB, tetapi melalui mekanisme inheren seperti tekanan sepihak dan dengan menerapkan prinsip-prinsip ini di negara-negara lain. Tapi saya pikir kebijakan ini tidak akan berhasil,” katanya.

Presiden AS Barack Obama ingin “menguniversalkan” pernikahan sesama jenis, kata Pushkov. “Tapi saya pikir situasi ini akan berhenti di Timur Tengah karena masyarakat Muslim … Tapi tidak berarti upaya tersebut tidak akan dilakukan.”

Mahkamah Agung AS memutuskan Jumat lalu bahwa pasangan gay bisa menikah di negara bagian AS manapun, sehingga mengakhiri larangan pernikahan sesama jenis di 14 negara lainnya. (Presstv, 1/7/2015)



[Read More...]


Ramadhan 1436H: Mengokohkan Perjuangan



AlhamdulilLahir Rabil ‘alamin. Allah SWT masih memberikan kesempatan kepada kita untuk mengisi bulan Ramadhan 1436 H dengan beribadah kepada Allah SWT. Sesungguhnya semua ibadah mahdhah yang kita lakukan bermuara pada semakin meningkatnya ketaatan kepada Allah SWT. Demikian pula dengan ibadah shaum kita, yakni kita agar menjadi manusia yang bertakwa, la’allakum tattaqun. Takwa diartikan sebagai menjalankan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi seluruh larangan-Nya.

Tentu ada yang salah jika seorang Muslim taat dalam ibadah mahdhah-nya—seperti rajin shalat, sungguh-sungguh dalam shaum, taat dalam menjalankan ibadah haji dan zakat—tetapi menolak penegakan hukum-hukum Allah SWT (syariah Islam) secara menyeluruh dalam institusi Khilafah.

Sesungguhnya Allah SWT tidak hanya memerintahkan kita shaum Ramadhan, melaksanakan shalat lima waktu, dan kewajiban ibadah mahdhah lainya. Allah SWT pun memerintah kita untuk berhukum pada seluruh hukum Allah SWT. Allah SWT (yang artinya): Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhannya,  dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian (TQS al-Baqarah [2]: 208).

Imam Ibnu Katsir rahimahulLah menegaskan dalam tafsirnya, bahwa dalam ayat ini Allah SWT menyeru para hamba-Nya yang beriman kepada Dia serta membenarkan Rasul-Nya untuk mengambil seluruh ajaran dan syariah Allah SWT, melaksanakan seluruh perintah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya dengan semaksimal mungkin.

Tentang kewajiban menjalankan seluruh syariah Islam dijelaskan  oleh Al-‘Alim asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil: “Frasa ayat ‘Janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan’ merupakan indikasi (qarinah) atas kewajiban dari perintah Allah dalam ayat yang agung ini untuk berislam secara totalitas.”

Semua bentuk ibadah mahdhah yang kita lakukan seperti shalat, shaum, zakat, haji sudah seharusnya semakin memperkuat ketaatan kita kepada hukum-hukum Allah SWT secara menyeluruh. Shaum kita  pun sepantansnya semakin mengokohkan perjuangan kita untuk menegakkan hukum Allah SWT dan Khilafah.

Bulan Ramadhan juga sering disebut syahr al-Qur’an. Pada bulan inilah al-Quran diturunkan. Pada bulan ini pun kita didorong  untuk banyak membaca dan menghapal al-Quran. Allah SWT melimpahkan pahala yang besar bagi siapapun yang melaksanakan itu. Namun demikian, kita tidak boleh lupa, bahwa al-Quran bukan hanya untuk dibaca dan dihapal, tetapi juga merupakan pedoman hidup kita, hud[an] lin-nas (petunjuk untuk manusia) dan hud[an] lil-muttaqin (petunjuk untuk kaum yang bertakwa).

Al-Quran sebagai pedoman hidup artinya hukum-hukumnya harus diterapkan dalam kehidupan kita. Semua ini seharusnya mendorong kita untuk berjuang menegakkan Khilafah Islam. Pasalnya, mustahil seluruh hukum-hukum al-Quran (syariah Islam) bisa diterapkan secara totalitas tanpa adanya Khilafah.

Ramadhan juga sering disebut sebagai syahrul-jud. Pada bulan ini kita didorong untuk memperbanyak perbuatan baik kepada sesama manusia, memberikan bantuan kepada fakir miskin dan bermurah tangan. Rasulullah saw. sendiri adalah manusia yang paling murah tangan, senang membantu orang lain. Pada bulan Ramadhan Rasulullah saw. lebih pemurah lagi.

Kita didorong oleh Rasulullah saw. bukan hanya membantu fakir miskin, tetapi juga menolong umat Islam yang dizalimi, yang ditindas, atau dibunuh. Tentu perhatian kita terhadap mereka seharusnya lebih besar lagi. Bukankah Rasulullah saw. mengingatkan kita agar peduli terhadap nyawa kaum Muslim? Bahkan Rasulullah saw. menyatakan hancurnya bumi beserta isinya ini adalah lebih ringan bagi Allah daripada hilangnya nyawa seorang Muslim tanpa alasan yang haq.

Saat ini kita bisa melihat nyawa umat Islam demikian murahnya di mata musuh-musuh Allah SWT. Penjajah Yahudi sampai saat ini terus melakukan pembunuhan massal terhadap umat Islam di Palestina. Hal yang sama dilakukan musuh-musuh Allah SWT terhadap kaum Muslim di Afrika Tengah, Myanmar dan tempat-tempat lainnya. Para penguasa represif yang didukung oleh Barat juga melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan oleh diktator Sisi di Mesir dan rezim brutal Assad di Suriah. Semua ini terjadi kerena di tengah-tengah umat Islam tidak ada lagi institusi pelindung, yaitu Khilafah Islam.

Alhasil, bulan Ramadhan ini justru harus membuat kita lebih bersungguh-sungguh untuk menghentikan penderitaan kaum Muslim ini dengan bersungguh-sungguh memperjuangkan syariah dan Khilafah Islam.

Ramadhan adalah bulan perjuangan. Ini ditunjukkan sendiri oleh Rasulullah saw. yang mulia. Pada bulan Ramadhan Rasulullah saw. bukan hanya melakukan ibadah mahdhah atau amalan as-Sunnah, tetapi juga melaksanakan jihad fi sabilillah, perang di jalan Allah SWT. Pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2 H, Rasulullah saw. memimpin Perang Badar. Perang ini dimenangkan kaum Muslim meskipun dengan jumlah yang lebih sedikit (300 orang), namun bisa mengalahkan 1000 pasukan musyrik. Fathul-Makkah juga terjadi pada bulan Ramadahan, tepatnya pada 21 Ramadhan tahun 8 H.

Perjuangan dan kemenangan pada bulan Ramadhan ini diikuti oleh kaum Muslim sesudah Rasulullah saw. Beberapa perang besar terjadi pada bulan Ramadhan seperti Perang Qadisiyah melawan pasukan Jenderal Persia, Rustum, dan pembebasan Andalusia (Spanyol). Saifuddin Qutus juga berhasil mengalahkan Tatar dalam Perang ‘Ayn Jalut pada bulan Ramadhan. Demikian juga pembebaskan Bosnia Herzegovina. Semua ini menunjukkan bahwa Ramadhan adalah bulan perjuangan.

Terakhir, apa yang menjadi harapan dan doa yang disampaikan oleh Amir Hizbut Tahrir saat menyambut bulan ramadhan 1436 H semoga dikabulkan Allah SWT. Beliau menyatakan, “Saya memohon kepada Allah SWT agar menerima dari kaum Muslim seluruhnya shiyam dan qiyam mereka dan agar semua itu menjadi pembuka kebaikan dan berkah, menjadi pendahuluan dari pertolongan dengan tegaknya al-Khilafah ar-Rasyidah sehingga umat pun bisa berlindung di bawah panji al-‘Uqab, panji Lâ ilâha ilâ Allâh Muhammadun Rasûlullâh.  Dengan itu  umat kembali menjadi seperti dulu; menjadi umat yang mulia, kuat dengan Rabb mereka dan mulia dengan agama mereka. Allah SWT berfirman: Pada hari (kemenangan) itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang saja yang Dia kehendaki. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang (TQS ar-Rum [30]: 4-5).”

AlLahu Akbar! [Farid Wadjdi]

 



[Read More...]


Ramadhan dan Perjuangan Dakwah



Jika pun pada akhirnya Ramadhan berakhir, bukan berarti berhenti pula amalan-amalan nafilah yang rutin dikerjakan selama bulan Ramadhan. Apalagi amalan wajib yang seharusnya senantiasa ditingkatkan kualitasnya. Salah satunya dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam. Dakwah yang bertujuan menegakkan sistem pemerintahan Islam ini tentu membutuhkan pengorbanan yang sangat besar.

Jika dibandingkan dengan pengorbanan Rasul dan para Sahabat di jalan dakwah ini, tentu kita akan sangat malu karena baru sedikit yang bisa kita kontribusikan di jalan dakwah. Ujian yang kita alami belum sehebat ujian yang menimpa beliau. Pengorbanan yang kita lakukan mungkin belum setulus Umar bin Khathab. Harta yang kita keluarkan mungkin belum sebanyak Abdurrahman bin Auf. Kesakitan yang kita rasakan mungkin belum sesakit Bilal. Ketegaran kita di jalan dakwah ini mungkin belum setegar Mush’ab bin Umair. Tentu amat jauh perbandingannya. Seharusnya hal itu menjadi cermin agar kita bisa melihat kualitas diri kita saat ini serta cambukan yang akan mengokohkan perjuangan dakwah ini.

Peningkatan kualitas diri itu penting. Mengapa? Karena saat ini kita hidup di zaman dimana kezaliman menjadi hal yang biasa. Kemaksiatan dilegalkan, tetapi ketaatan justru dipermasalahkan. Peningkatan kualitas diri itu tidak semata-mata untuk kepentingan pribadi saja, tetapi justru harus berpengaruh luas ketengah-tengah umat. Pengaruhnya akan dirasakan oleh umat jika kita melakukan manuver-manuver politik yang cerdas. Di antaranya dengan mengemukakan pemikiran Islam yang benar dan jernih ke tengah-tengah umat sehingga menjadi pemikiran umat. Di samping peningkatan kualitas diri, dakwah ini pun butuh konsistensi.

Mengokohkan pijakan di jalan dakwah memang bukan perkara mudah. Banyak duri yang senantiasa menghalangi di jalanan, layaknya dulu kaum Quraisy yang senantiasa menjadi rintangan dakwah Rasulullah. Namun demikian, hal itu tidak selayaknya menjadi alasan untuk resign dari dakwah. Justru harus sebaliknya, yakni memassifkan gerak dakwah (Lihat: TQS. Al-Ahqaf: 13-14).

Gerak dakwah kita tentu akan sangat dipengaruhi oleh berbagai sebab di antaranya: (1) Ihsanul amal (amal terbaik); (2) Meningkatkan syakhsiyyah Islam; (3) Iltizam dengan syariah Islam; (4) Sabar dalamberamal; (5) Melaksanakan amal jama’i.

WalLahu a’lam bi ash-shawab. [Rismayanti Nurjannah; Guru SMAIT Insantama, Bogor]



[Read More...]


Ramadhan dan Islam Kaffah



Menjelang dan selama Ramadhan, kita biasanya diingatkan dengan ayat tentang shaum, yakni: Yâ ayyuhalladzina âmanû kutiba ‘alaykum ash-shiyâm (Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa…) (TQS al-Baqarah [2]: 183).

Ayat ini biasanya direspon oleh umat Islam dengan antusias. Shaum Ramadhan bukan saja dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan kegembiraan. Bahkan kedatangan bulan Ramadhan jauh-jauh hari sudah amat dirindukan. Banyak di antara mereka yang kemudian berdoa, bahkan sejak bulan Rajab, “Allâhumma bâriklanâ fi Rajaba wa Sya’bân wa ballignâ Ramadhân (Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah [umur] kami hingga [masuk] ke bulan Ramadhan).”

Tentu menarik jika antusiasme umat Islam menyambut perintah shaum—sebagai  bentuk pengamalan QS al-Baqarah ayat 183—dikaitkan dengan QS al-Baqarah ayat 178. Menarik karena QS al-Baqarah ayat 178 pun diawali dengan frasa “kutiba”. Allah SWT berfirman: Yâ ayyuhalladzina âmanû kutiba ‘alaykum al-qishâsh fî al-qatlâ; al-hurru bil hurri wal ‘abdu bi al-abdi wal untsâ bi al-untsâ…(Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian menegakkan hukum qishash…) (QS al-Baqarah [2] 178).

Banyak mufassir menafsirkan frasa “kutiba” dalam kedua ayat yang berdekatan di atas dengan makna “furidha” (diwajibkan). Artinya, menurut ayat ini kaum Muslim wajib menegakkan hukum qishash sebagaimana mereka pun wajib menunaikan shaum Ramadhan. Bedanya, pelaksanaan hukum qishash tentu tidak dilakukan oleh orang-perorang sebagaimana pelaksanaan shaum Ramadhan. Sebagaimana sanksi ‘uqubat yang lain, pelaksana hukum qishash tidak lain adalah negara/penguasa (Khilafah/Khalifah). Hukum qishash adalah hukum balasan setimpal. Sesuai dengan makna zhahir ayat di atas: jika orang merdeka membunuh orang merdeka tanpa haq maka sang pembunuh wajib dibunuh lagi (dihukum mati). Demikian juga jika budak membunuh budak atau wanita membunuh wanita, maka sang pembunuh wajib dihukum mati.

Pertanyaannya: Mengapa para penguasa Muslim, khususnya di negeri ini, enggan melakukan hukum qishash sebagaimana mereka pun mengabaikan banyak hukum-hukum Islam yang lain? Mengapa pula umat Islam mendiamkan para penguasa tidak melaksanakan hukum qishash sebagaimana mereka pun membiarkan penguasa mengabaikan sebagian besar hukum-hukum Islam yang lain? Mengapa kebanyakan mereka tidak tergerak untuk berjuang menegakkan Khilafah dan mengangkat seorang khalifah yang merupakan satu-satunya pihak yang berwenang melaksanakan hukum qishash sebagaimana banyak hukum Islam yang lain?

Jika demikian kenyataannya, sungguh kita tidak adil dalam memperlakukan ayat-ayat Allah SWT. Kita hanya melaksanakan sebagian ayat dan seolah mengingkari sebagian ayat yang lain. Padahal tindakan demikian serupa dengan tindakan kaum Yahudi, yang jelas-jelas amat dicela oleh Allah SWT (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 285).

Alhasil, marilah bulan Ramadhan kali ini kita jadikan momentum untuk melakukan perubahan secara total demi terwujudnya ‘Islam kaffah’ sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT dalam al-Quran (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 208). Caranya adalah dengan berupaya sungguh-sungguh menegakkan institusi pemerintahan Islam, yakni Khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah, agar semua hukum Islam benar-benar dapat diterapkan secara total sebagai wujud dari ketakwaan kita kepada Allah SWT. Bukankah takwa yang benar-benar ingin kita raih lewat ibadah shaum Ramadhan?!

WalLahu a’lam bi ash-shawab. [Agustini Diah P, S.Ikom, M.Pd.I.; Guru SMPIT Darul Muttaqien Parung Bogor]

 

 



[Read More...]


 
Return to top of page Copyright © 2013 | Hizbut Tahrir Indonesia