Unofficial Hizbut Tahrir Indonesia

Info, kegiatan dan berita-berita pilihan seputar Hizbut Tahrir Indonesia
hizbut tahrir indonesia

Ramadhan dan Perjuangan Dakwah



Jika pun pada akhirnya Ramadhan berakhir, bukan berarti berhenti pula amalan-amalan nafilah yang rutin dikerjakan selama bulan Ramadhan. Apalagi amalan wajib yang seharusnya senantiasa ditingkatkan kualitasnya. Salah satunya dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam. Dakwah yang bertujuan menegakkan sistem pemerintahan Islam ini tentu membutuhkan pengorbanan yang sangat besar.

Jika dibandingkan dengan pengorbanan Rasul dan para Sahabat di jalan dakwah ini, tentu kita akan sangat malu karena baru sedikit yang bisa kita kontribusikan di jalan dakwah. Ujian yang kita alami belum sehebat ujian yang menimpa beliau. Pengorbanan yang kita lakukan mungkin belum setulus Umar bin Khathab. Harta yang kita keluarkan mungkin belum sebanyak Abdurrahman bin Auf. Kesakitan yang kita rasakan mungkin belum sesakit Bilal. Ketegaran kita di jalan dakwah ini mungkin belum setegar Mush’ab bin Umair. Tentu amat jauh perbandingannya. Seharusnya hal itu menjadi cermin agar kita bisa melihat kualitas diri kita saat ini serta cambukan yang akan mengokohkan perjuangan dakwah ini.

Peningkatan kualitas diri itu penting. Mengapa? Karena saat ini kita hidup di zaman dimana kezaliman menjadi hal yang biasa. Kemaksiatan dilegalkan, tetapi ketaatan justru dipermasalahkan. Peningkatan kualitas diri itu tidak semata-mata untuk kepentingan pribadi saja, tetapi justru harus berpengaruh luas ketengah-tengah umat. Pengaruhnya akan dirasakan oleh umat jika kita melakukan manuver-manuver politik yang cerdas. Di antaranya dengan mengemukakan pemikiran Islam yang benar dan jernih ke tengah-tengah umat sehingga menjadi pemikiran umat. Di samping peningkatan kualitas diri, dakwah ini pun butuh konsistensi.

Mengokohkan pijakan di jalan dakwah memang bukan perkara mudah. Banyak duri yang senantiasa menghalangi di jalanan, layaknya dulu kaum Quraisy yang senantiasa menjadi rintangan dakwah Rasulullah. Namun demikian, hal itu tidak selayaknya menjadi alasan untuk resign dari dakwah. Justru harus sebaliknya, yakni memassifkan gerak dakwah (Lihat: TQS. Al-Ahqaf: 13-14).

Gerak dakwah kita tentu akan sangat dipengaruhi oleh berbagai sebab di antaranya: (1) Ihsanul amal (amal terbaik); (2) Meningkatkan syakhsiyyah Islam; (3) Iltizam dengan syariah Islam; (4) Sabar dalamberamal; (5) Melaksanakan amal jama’i.

WalLahu a’lam bi ash-shawab. [Rismayanti Nurjannah; Guru SMAIT Insantama, Bogor]





 
Return to top of page Copyright © 2013 | Hizbut Tahrir Indonesia